Jumat, 25 November 2011

Ada Apa Dengan Muharram dan ‘Asyura?




Muqoddimah
Bismillah wal hamdulillah, was sholatu was salamu ‘ala Rosulillah. Muharram dalam kalender hijriyah adalah bulan yang pertama, sebagaimana Januari sebagai bulan pertama dalam hitungan kalender Masehi. Sedangkan Asyura adalah istilah untuk hari kesepuluh dari bulan Muharram, alias tanggal 10 Muharram. Yang mana sepuluh dalam bahasa Arab disebut dengan ‘Asyroh. Sedangkan hitungan yang kesepuluh disebut ‘Asyir atau ‘Asyiroh. Hari kesepuluh di bulan Muharram disebut ‘Asyuro. Kata itulah yang diadopsi oleh orang Jawa (baca: Islam Kejawen) untuk menamakan bulan pertama dalam kalender mereka dengan nama bulan Suro.

Muharram bulan Suci
Setahun dalam kalender Hijriyah terdiri dari 12 bulan, seperti halnya jumlah bulan dalam kalender Masehi. Allah berfirman dalam al-Qur’an, “Sesungguhnya bilangan bulan di sisi  Allah ialah dua belas bulan, dalam ketetapan Allah di waktu Dia menciptakan langit dan bumi, di antaranya empat bulan haram (suci). Itulah (ketetapan) agama yang lurus, maka janganlah menganiaya diri dalam bulan yang empat itu, dan perangilah musyrikin semuanya, dan ketahuilah bahwasanya Allah beserta orang-orang yang bertaqwa”. (QS.At-Taubah: 36).

Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersada: “Sesungguhnya zaman itu berputar sebagaimana bentuknya semula di waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Setahun itu ada dua belas bulan diantaranya terdapat empat bulan yang dihormati: tiga bulan berturut-turut; Dzul Qo’dah, Dzul Hijjah, Muharram dan Rajab, yang terhimpit antara bulan Jumada Tsaniah dan Sya’ban.” (HR. Bukhari dan Muslim).

Keutamaan bulan Muharram
Allah adalah Dzat yang Maha Mulia, sehingga tidaklah suatu nama yang disandingkan di sisi nama-Nya, kecuali nama itu memang mulia atau menjadi bernilai istimewa di sisi-Nya. Para Ulama menyatakan bahwa penyandingan sesuatu pada yang lafdzul Jalalah memiliki makna tasyrif (pemuliaan).
Sebagaimana yang kita kenal selama ini, ada istilah Baitullah, Kitabullah, Jundullah, Malaikatullah, Asadullah, Saifullah dan sebagainya. Seperti nama nabi kita Muhammad, disebut sebagai Rasulullah (utusan Allah), sebutannya disandingkan dengan nama Allah. Begitu pula bulan Muharram, Rasulullah menyebutnya sebagai “Syahrullah” (bulan Allah).

Rasulullah bersabda : “Puasa yang paling utama setelah Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (yaitu) Muharram. Sedangkan shalat yang paling utama setelah shalat fardhu adalah shalat malam”. (H.R. Muslim). Itu bermakna bahwa bulan ini memiliki keutamaan khusus karena disandingkan dengan lafdzul Jalalah (lafadz Allah).

Momentum Muharram
Muharram adalah bulan yang sangat tepat untuk dijadikan sebagai momentum evaluasi diri berskala tahunan. Karena di bulan itu kita membuka lembaran baru dalam tahun baru. Kita syukuri usia (keberlangsungan hidup) yang diberikan Allah.

A.    Lakukan Evaluasi diri (Muhasabah).
Seiring dengan bergantinya tahun, maka usia kita semakin bertambah, itulah anggapan masyarakat pada umumnya. Padahal hakikatnya, dengan bergantinya tahun, otomatis berkuranglah jatah usia yang telah ditentukan Allah bagi kita. Berputarnya waaktu, berjalannya detik, menit, jam, hari, pecan, bulan dan tahun, maka berkuranglah usia kita. Datangnya Muharram mengajak kita untuk evaluasi, dalam rangka cari bekal untuk kebahagian hidup di akhirat.
Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah Setiap diri memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat); dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Hasyr: 18).
Rasulullah shallallohu ‘alaihi wa sallam bersabda : “Orang yang cerdas adalah orang yang menghitung-hitung amal baik (dan selalu merasa kurang) dan beramal shaleh sebagai persiapan menghadapi kematian”. (HR. Tirmidzi). Dalam sebuah atsar yang cukup mashur dari Umar bin Khaththab ra beliau berkata: “Hitunglah amal kalian, sebelum dihitung oleh Allah”.

B.    Meneladani Hijrah Rasulullah.
Sebenarnya dalam kitab Tarikh Ibnu Hisyam dinyatakan bahwa keberangkatan hijrah Rasulullah dari Mekah ke Madinah adalah pada akhir bulan Shafar, dan tiba di Madinah pada awal bulan Rabiul Awal. Jadi bukan pada tanggal 1 Muharram sebagaimana anggapan sebagian orang. Sedangkan penetapan Bulan Muharram sebagai awal bulan dalam kalender Hijriyah adalah hasil musyawarah pada zaman Khalifah Umar bin Khatthab ra tatkala mencanangkan penanggalan Islam.
Pada saat itu ada yang mengusulkan Rabiul Awal sebagai bulan pertama, ada pula yang mengusulkan bulan Ramadhan. Namun kesepakatan yang muncul saat itu adalah bulan Muharram, dengan pertimbangan pada bulan ini telah bulat keputusan Rasulullah saw untuk hijrah pasca peristiwa Bai’atul Aqabah, dimana terjadi bai’at 75 orang Madinah yang siap membela dan melindungi Rasulullah saw, apabila beliau datang ke Madinah. Dengan adanya bai’at ini, Rasulullah pun melakukan persiapan untuk hijrah, dan baru dapat terealisasi pada bulan Shafar, meski ancaman maut dari orang-orang Quraisy senantiasa mengintai beliau.

C.    Penggunaan Kalender Hijriyah.
Barangkali kita tidak memperhatikan bahwa ibadah yang kita lakukan seringkali berkait erat dengan penanggalan Hijriyah. Akan tetapi hari yang istimewa bagi kebanyakan dari kita bukan hari Jum’at, melainkan hari Minggu. Karena kalender yang kita pakai adalah Kalender Masehi. Dan sekedar mengingatkan, hari Minggu adalah hari ibadah orang-orang Nasrani. Sementara Rasulullah saw menyatakan bahwa hari jum’at adalah sayyidul ayyam (hari yang utama diantara hari yang lain).

Demikian pula penetapan hari raya kita, baik Idul Adha maupun Idul Fitri pun mengacu pada hitungan kalender Hijriyah. Wukuf di Arafah yang merupakan satu rukun dalam ibadah haji, waktunya pun berpijak pada kalender hijriah. Begitu pula awal Puasa Ramadhan, puasa ayyamul Bidh ( tanggal 13,14,15 tiap bulan) dan sebagainya mengacu pada Penanggalan Hijriah. Untuk itu seyogyanya bagi setiap muslim untuk menambah perhatiannya pada Kalender Islam (Hijriyah).

Keutamaan Hari Asyura
Hari Asyuro’ bagi umat Islam adalah hari yang sangat monumental, di mana pada hari itu menurut keterangan Dr. Sayyid Muhammad Alawi Al Maliki dengan sandaran yang jelas, Allah Subhana wa ta’ala menurunkan Nabi Adam ke dunia, Allah Subhana wata’ala menerima taubat Nabi pertama itu akibat kesalahannya memakan buah yang terlarang, diterimanya taubat kaum Nabi Yunus, berlabuhnya perahu Nabi Nuh di bukit Al Judiyyi (terletak di Armenia sebelah selatan, berbatasan dengan Mesopotamia), serta kemenangan Nabi Musa dan tenggelamnya Fir’aun. (Lihat Kitab Dzikroyat Wa Munasabat: 51).

Dalam suatu riwayat yang berasal dari Ibnu Abbas ra disebutkan, “Ketika Rasulullah saw tiba di Madinah, beliau melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura, maka Beliau bertanya : “Hari apa ini? Mereka menjawab: “Ini adalah hari istimewa, karena pada hari ini Allah menyelamatkan Bani Israil dari musuhnya, Karena itu Nabi Musa berpuasa pada hari ini. Rasulullah pun bersabda: “Aku lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”. Maka beliau nerpuasa dan memerintahkan shahabatnya untuk berpuasa. (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam memerintahkan untuk berpuasa pada hari sebelum maupun setelah ‘Asyura dalam rangka menyelisihi orang-orang Yahudi karena hari ‘Asyura –yaitu 10 Muharram- adalah hari di mana Allah selamatkan Musa dan kaumnya, dan menenggelamkan Fir’aun dan para pengikutnya.

Dahulu orang-orang Yahudi berpuasa pada hari tersebut sebagai syukur mereka kepada Allah atas nikmat yang agung tersebut. Allah telah memenangkan tentara-tentaranya dan mengalahkan tentara-tentara syaithan, menyelamatkan Musa dan kaumnya serta membinasakan Fir’aun dan para pengikutnya. Ini merupakan nikmat yang besar.

Oleh karena itu, setelah Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam tinggal di Madinah, beliau melihat bahwa orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyura [2]. Beliau pun bertanya kepada mereka tentang hal tersebut. Maka orang-orang Yahudi tersebut menjawab, “Hari ini adalah hari di mana Allah telah menyelamatkan Musa dan kaumnya, serta celakanya Fir’aun serta pengikutnya. Maka dari itu kami berpuasa sebagai rasa syukur kepada Allah”. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berkata, “Kami lebih berhak terhadap Musa daripada kalian”.

Kenapa Rasulullah mengucapkan hal tersebut? Karena Nabi dan orang–orang yang bersama beliau adalah orang-orang yang lebih berhak terhadap para nabi yang terdahulu. Allah berfirman,“Sesungguhnya orang yang paling berhak dengan Ibrahim adalah orang-orang yang mengikutinya dan nabi ini (Muhammad), serta orang-orang yang beriman, dan Allah-lah pelindung semua orang-orang yang beriman”. (QS. Ali Imran: 68).

Puasa di bulan Muharram
Bulan Muharram adalah salah satu bulan haram yang dianjurkan Rasulullah saw untuk banyak melakukan puasa di dalamnya berdasarkan sabdanya yang diriwayatkan oleh Imam Muslim dari Abu Hurariroh berkata, ”Rasulullah saw bersabda, ’Puasa yang paling afdhol setelah bulan Ramadhan adalah puasa di bulan Allah (al-Muharram), dan shalat yang paling afdhol setelah shalat fardhu adalah shalat malam.”
Didalam Kitab Syarhul Muslim, Imam Nawawi rahimahulloh mengatakan bahwa bulan ini (Muharram) adalah bulan yang paling utama untuk berpuasa.

Ada pendapat ulama yang menyebutkan bahwa yang paling utama untuk berpuasa dari bulan Muharram ini adalah sepuluh hari pertama, sebagaimana dikatakan al Mardawi didalam kitab “al Inshaf” bahwa yang paling utama dari bulan Muharram adalah hari kesepuluh atau Asyu’ra lalu hari kesembilan atau tasuua’a lalu sepuluh hari pertama.

Ibnu Rajab didalam kitab “Latha’if al Ma’arif” juga menyebutkan bahwa yang paling utama dari bulan Allah (al-Muharram) adalah sepuluh hari pertama.’
Kemudian juga dinukil dari Abi ‘Utsman an Nahdiy berkata bahwa mereka menganggungkan sepuluh hari yang tiga, yaitu : sepuluh hari pertama bulan Ramadhan, sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah dan sepuluh hari pertama bulan Muharram.

Namun demikian tidak terdapat hadits shahih yang menjelaskan tentang keutamaan berpuasa pada sepuluh hari pertama dari bulan Muharram secara keseluruhan, yang ada hanya keutamaan puasa ‘Asyura’, atau hari kesepuluh bulan Muharram. (Markazul Fatwa no. 43810).

Memang, tidak ada dalil khusus yang menyebutkan bahwa berpuasa pada hari pertama (tanggal 1) dari bulan Muharram adalah sunnah akan tetapi yang di-sunnah-kan adalah memperbanyak berpuasa di bulan ini, sebagaimana penjelasan di atas. Dan jika seseorang melakukan puasa pada tanggal 1 Muharram karena anjuran memperbanyak puasa di bulan ini bukan karena kekhususan tanggal 1 Muharram maka ia telah melakukan sunnah berdasarkan hadits Abu Hurairah di atas.

Hadits Puasa Asyura
Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Kitab Syarhul Muslim (8/6), “Para ulama telah bersepakat bahwa puasa pada hari ‘Asyuro` hukumnya sekarang (yaitu ketika telah diwajibkannya puasa Ramadhan) adalah sunnah dan bukan wajib”. Dan ijma’ akan hal ini juga telah dinukil oleh Ibnu ‘Abdil Barr rahimahullah sebagaimana disebutkan dalam Kitab Fathul Bary: (2/246).

Ada banyak hadits shahih yang bisa dijadikan sebagai landasan atas diperintahkannya kita untuk berpuasa sunnah di bulan Muharram, terutama di hari kespulah yang disebut dengan puasa ‘Asyura’. Dan dalam riwayat tersebut, Rasulullah juga menjelaskan tentang keutamaan puasa sunnah ‘Asyura’ yang sangat besar, sehingga sayang kalau kita tidak kita kerjakan. Di antara hadits-hadits tersebut adalah:


عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ -رَضِيَ اللَّهُ عَنهُما-، أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ وَسَلَّم- صَامَ يَوْمَ عَاشُوْرَاءَ
وَأَمَرَ بِصِياَمِهِ. – مُتَّفّقٌ عَلَيهِ

Dari Ibnu Abbas -radhiyallahu ‘anhuma-, “Bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan untuk berpuasa padanya”. (Muttafaqun ‘Alaihi).


عَنْ أَبِيْ قَتَادَةَ -رَضِيَ اللَّهُ عَنهُ-، أَنَّ رَسُوْلَ اللَّهِ -صَلَّى اللَّهُ عَلَيهِ
وَسَلَّم- سُئِلَ عَنْ صِيَامِ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ. فَقَالَ: يُكَفِّرُ السَّنَةَ الْمَاضِيَةَ
-رَوَاهُ مُسلِمٌ-
 
Dari Abu Qatadah -radhiyallahu ‘anhu-, bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam ditanya tentang puasa hari ‘Asyura. Beliau menjawab, “(Puasa tersebut) menghapuskan dosa satu tahun yang lalu”. (HR. Muslim).

Cara Berpuasa Asyura
Shahabat Ibnu Abbas radhiyallohu’anhuma menggambarkan antusias (semangat) Rasulullah  untuk berpuasa di hari ‘Asyura’ dengan mengatakan: “Aku tidak melihat Nabi  begitu antusias berpuasa pada suatu hari yang diharapkan keutamaannya dibanding hari-hari lain selain hari ini, yaitu hari Asyuro, dan bulan ini, yaitu bulan Ramadhan.” (HR. al-Bukhari no.2006).

Ada tiga cara untuk berpuasa Asyura (di bulan Muharram):

1.    Berpuasa tiga hari, yaitu puasa tanggal 10 Muharram ditambah sehari sebelumnya dan sehari sesudahnya, yaitu puasa tanggal 9, 10 dan 11 Muharram. Berdasrkan riwayat berikut.
Rasulullah bersabda, “Puasalah kalian hari ‘Asyura dan selisihilah orang-orang yahudi padanya (maka) puasalah sehari sebelumnya dan sehari setelahnya. (HR. Ahmad dan Al Baihaqy. Didhaifkan oleh As Syaikh Al-Albany di Dha’iful Jami’ hadits no. 3506).

2.    Berpuasa dua hari. Yaitu pada tanggal 9 dan 10 Muharram, dan inilah cara puasa yang Afdhol, sebagaimana dikatan oleh Imam Ibnul Qoyyim al-Jauziyah rahimahulloh.

Disebutkan dalam sebuah riwayat, ketika Rasulullah saw memerintahkan untuk puasa pada hari ‘Asyura, para shahabat berkata: “Itu adalah hari yang diagungkan oleh orang-orang Yahudi dan Nasrani, beliau bersabda: “Jika datang tahun depan insya Allah kita akan berpuasa hari kesembilan, akan tetapi beliau meninggal pada tahun tersebut.” (HR. Muslim).

Atau berpuasa pada tanggal 10 dan 11 Muharram. Berdasarkan riwayat berikut: Rasulullah bersabda, “Berpuasalah kalian pada hari ‘Asyuro` dan selisihilah orang-orang Yahudi padanya, (yaitu) berpuasalah kalian sehari sebelumnya atau sehari setelahnya”.

Hadits ini dikeluarkan oleh Ahmad (1/399/2155), Ibnu Khuzaimah dalam Shohihnya (3/290-291/2095) dan Al-Baihaqy (4/287) dari jalan Ibnu Abi Laila dari Daud bin ‘Ali dari ayahnya dari Ibnu ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma dari Nabi Shollallahu ‘alaihi wa ‘ala alihi wasallam secara marfu’. Namun Imam asy-Syaukany rahimahullah berkata setelah membawakan hadits ini: “Riwayat ini dho’if (lemah) mungkar ”.

3.    Puasa pada tanggal 10 saja. Berdasarkan riwayat berikut: Dari ‘Abdullah bin ‘Abbas radhiallahu ‘anhuma beliau berkata, “Nabi datang (hijrah) ke Madinah dan beliau mendapati orang-orang Yahudi berpuasa pada hari ‘Asyuro`, maka beliau bertanya: “Apa ini?”, mereka (orang-orang Yahudi) menjawab: “Ini adalah hari baik, ini adalah hari Allah menyelamatkan Bani Isra`il dari musuh mereka maka Musa berpuasa padanya”, beliau bersabda : “Kalau begitu saya lebih berhak dengan Musa daripada kalian” maka beliaupun berpuasa dan memerintahkan (manusia) untuk berpuasa”. (HR. Al-Bukhari dan Muslim).

Syekh Muhammad Bin Shalih Al-Utsaimin rahimahullah berkata, “Pendapat yang rajih (kuat) adalah bahwa tidak dimakruhkan berpuasa sehari di bulan Muharram, yaitu di hari  ‘Asyura saja. (Kitab Syarhul Mumthi’: VI)

Penutup
Pada awal bulan Muharram, yang sering dikenal dengan istilah 1 Suro, biasanya di tanah air kita sering diadakan acara ritual dan adat yang beraneka macam bahkan tidak jarang mengarah pada kesyirikan, seperti meminta berkah pada benda-benda yang dianggap keramat dan sakti, membuang sesajian ke laut agar Ratu penjaga laut tidak marah dan lain sebagainya. Hal-hal semacam ini harus dihindari oleh setiap muslim dimanapun mereka berada.

Bulan Muharram keberadaannya sejak zaman dahulu kala, sebelum Muhammad bin Abdullah diutus sebagai Rasulullah atau setelahnya. Kalau kita amati sejarah yang ada, kita jumpai bahwa orang Yahudi sangat memuliakan bulan Muharram, begitu juga kaum musyrikin (orang-orang Jahiliyah). Bentuk pemuliaan mereka diwujudkan dengan berpuasa pada hari kesepuluh Muharram, yaitu hari ‘Asyura. Mereka tidak melakukan ritual kesyirikan, seperti mandikan jimat atau benda pusaka. Kenapa banyak ummat Islam sekarang memuliakan bulan Muharram dengan ritual berbau syirik. Apakah itu bukan tindakan yang memalukan, lebih Jahil dari pada orang-orang jahiliyah zaman dahulu…???

Oleh karena itu, mari kita kembali ke sunnah Rasulullah. Memuliakan bulan Muharram sesuai dengan tuntunannya. Jangan berlebihan apalagi kebablasan, dengan melakukan hal-hal yang bertentangan dengan nilai akidah Islam. Wallohu ‘alam. (almanar.co.id)

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar